contoh penyimpangan sosial bersifat positif

Kisah Sang Kondektur Wanita

Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking di tengah deru kendaraan. Yang membuat Anna tertarik untuk memperhatikannya adalah semata-mata karena ia seorang wanita yang bekerja sebagai kondektur. Sebuah profesi yang masih sedikit langka dan sulit dilakukan oleh kaum hawa.

Entah mengapa Anna begitu tertarik memperhatikan gerak-geriknya. Lincah, gesit, spontan dan sangat percaya diri

Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh. Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.

Hingga suatu ketika penumpang yang duduk di kursi belakang berteriak “Pir, kondekturnya ketinggalan, tuh! Kasihan!! Lumayan jauh. ”

Kami, penumpang yang ada di dalam bus, semua tertawa geli mendengar ucapan itu. Supir buru-buru menghentikan bus, menepi dan menunggu kondektur wanita yang ketinggalan. Cukup lama bus menunggu, kira-kira hampir sepuluh menit-an.

Tiba-tiba dari arah belakang bus, sebuah bajaj meluncur kencang dan berhenti persis di depan bus. Dari dalam Bajaj keluarlah sang wanita yang menjadi kondektur tadi, dengan wajah panik dan ketakutan. Ia segera menghampiri supir bus dan menangis sejadi-jadinya. Sambil mennguncang-guncangkan tubuh sang supir.

“Kamu jahat, jahat sekali! Tinggalin begitu aja!
Tau nggak, saya takut, saya panik waktu tahu bus sudah nggak ada. Padahal saya kan lagi bantu nyeberangin penumpang. Apa kamu nggak lihat, gimana sih kamu jadi supir nggak peduli amat?” Kalimat-kalimat itu terus meluncur dari bibir tipis si wanita.

Sudahlah, ma….! Maafkan saya, saya nggak lihat kalau kamu ada di seberang. Ya udah nggak usah nangis, malu dilihat orang. ” ujar sang supir.

Dari dialog mereka, Anna dan penumpang lain baru mengetahui bahwa ternyata supir dan kondektur itu adalah pasangan suami isteri. Seorang penumpang yang duduk paling depan dekat supir segera menjadi penengah pertengkaran tersebut.

“Sudah-sudah tidak usah diperpanjang, maafkan saja Bapak, dia mungkin khilaf tidak melihat. ” lerai bapak itu pada si kondektur wanita. “Ibu juga nggak usah dendam, sama-sama cari uang sama-sama kerja untuk anak, pasti ada susah senangnya. ”

“Pak supir juga harus peduli sama isteri jangan cuek, harus lihat keadaan sekitar, jangan main tancap gas aja!” ujar si bapak tadi menasehati supir.
Akhirnya pertengkaran pun berakhir, mereka saling bersalaman dan berpelukan.
Kami semua para penumpang segera bertepuk tangan dan terharu melihat sikap mereka.

Dalam hati Anna merasa bahwa mereka benar-benar pasangan yang cukup kompak, bahu membahu dalam mencari nafkah untuk keluarga dan mudah memaafkan satu sama lain, mau mengerti keadaan masing-masing dan tidak pantang menyerah.

Satu lagi pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh Anna sebagai calon ibu muda adalah bahwa siapa pun dirinya, kelak jika ia telah menikah nanti ia harus bisa bersikap tenggang rasa, tolong menolong dan saling memahami dalam setiap situasi apa pun. Jangan pernah sombong, egois dan merasa lebih tinggi dari pasangannya. Segala upaya untuk menafkahi keluarga harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah, disiplin dan ikhlas. Itu kunci utamanya., bisik Anna dalam hati.Ia sangat salut kepada pasangan supir dan kondektur tadi, karena meskipun kehidupan mereka, kemungkinan sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengakaran kecil, namun hal itu tidak mengurangi rasa kompak mereka sebagai pasangan suami isteri. Justru pertengkaran kecil itulah yang menjadi bumbu-bumbu manis dalam menciptakan bangunan rumah tangga.Dengan itu, masing-masing pasangan akan lebih memahami karakter, kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga di masa mendatang mereka bisa lebih memperbaiki diri. Membuat diri lebih siap menghadapi masalah-masalah kehidupan yang serius, mendidik anak-anak yang berbakti pada orang tua dan menciptakan masyarakat yang sejahtera.Ibarat pepatah, rumah tangga yang datar-datar saja dan tidak diwarnai dengan sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil layaknya sayur tanpa garam.


Seorang Bocah 10 Tahun Yang Menjadi Tukang Tambal Ban Truk

Dia terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan berat di bengkel pamannya, tapi hal itu tidak membuatnya berhenti, seorang anak berusia 10 tahun Wang Junjie terpaksa harus menjadi tukang tambal ban truk setelah keluar dari sekolah. Wang Junjie tinggal di Propinsi Guizhou dan melakukan ini karena kondisi keluarganya yang tidak mampu untuk menyekolahkannya.

Melihat usianya belumlah pantas jika bocah usia 10 tahun yang masih mungil ini harus membongkar ban sebuah truk untuk ditambal, selain faktor usia faktor kemanusiaanpun rasanya sangatlah kurang pantas, karena seperti halnya bocah seusianya masih harus menuntut pendidikan di sekolah untuk masa depan mereka.

Mungkin nasib Wang Junjie nama bocah itu tidak semujur teman-temannya yang lain, Wang adalah putus sekolah yang diakbibatkan faktor ekonomi dan alasan sekolahnya yang mengeluarkannya karena dinilai hasil akademis pelajaran yang jelek. Dikutip dari dailymail.co.uk menceritakan, bocak cilik yang tinggal di Propinsi Guizhou Cina ini akhirnya bekerja menjadi tukang tambal ban mobil dan truk di bengkel pamannya.

Beberapa waktu silam setelah Wang berhasil mengumpulkan sejumlah uang maka dirinya mencoba kembali untuk mendaftar sekolah, akan tetapi oleh pihal sekolah ditilak mengingat nilai akademis sebelumnya yang sangat jelek. Lha mau pinter ditolak sekolah kapan pinternya guman Wang mungkin demikian. Oh nak kasihan dikau.

Kala bersekolahpun Wang ditempatkan oleh gurunya di barisan belakang sehingga susah melihat papan tulis, mengingat tubuhnya lebih pendek dibanding teman teman sekelasnya. Wang kini tetap memimpikan ingain sekolah dan bisa belajar kembali seperti rekan rekan seusianya. Sebuah cita-cita mulia.

Jika kita sejenak menengok di negeri kita, agaknya potret Wang di Cina inipun sangat banyak kita jumpai di tanah air kita, mungkin ada juga yang nasibnya lebih tidak beruntung karena faktor ekonomi mereka harus membanting tulang untuk menyambung hidup sehingga meninggalkan sekolah, tidak jarang pula mereka bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Lihat di jalan raya, di perempatan lampu trafik light. Di dalam bus dan lain sebagainya.

Mari kita berbagi untuk masa depan mereka, karena mereka merupakan masa depan bangsa ini, tapi bagaimana berbagi yang bijak? apakah dengan memberi mereka uang sehingga mereka merasa meminta-minta lebih menghasilkan dari bekerja dan melemahkan mental sehingga mereka malas berusaha. tapi usia mereka kan memang belum pantas untuk bekerja?

Sudah saatnya kita semua peduli dengan masa depan mereka bukan hanya dengan mempolitisasi dan memanfaatkan mereka untuk kepentingan-kepentingan kita. tapi sungguh sungguh tulus mencarikan jalan bagai masa depan mereka. Seorang Bocah 10 Tahun Yang Menjadi Tukang Tambal Ban Truk.

 

 

Tukang Ojek Suwarni Juga Tukang Tambal Ban, Juga Main Ludruk

Rombongan Grup JAWA POS Biro Sidoarjo bertemu dengan Suwarni secara kebetulan. Ketika meluncur dengan sepeda motor menyusuri perkebunan tebu Dusun Mergosari, Kecamatan Tarik, salah satu ban tiba-tiba kempes. Di tempat terpencil, di kampung pendalaman, mana ada tukang tambal ban?

Rombongan pun mau tidak mau harus menuntun sepeda-motor, sambil bercanda, sejauh kurang-lebih tiga kilometer. Seorang perempuan menghampiri dan bertanya, “Bocor ya? Mau ditambal?” Dalam sekejap, dia keluarkan perkakas tambal ban…dan mulai bekerja. Sangat lincah!

Itulah Suwarni, yang dipanggil akrab Ning Warni. “Saya memang tukang tambal ban,” katanya. “Saya sudah menekuni pekerjaan ini sejak 1993…kerja apa saja, pokoke halal.” Sambil berbicara ia terus bekerja. Tidak sampai 30 menit, ban siap dipakai lagi.

“Untung ada Ning Warni, kalau tidak kita harus tuntun motor ke Mojokerto,” komentar Agus, loper koran.

Kecekatan dan mutu pekerjaan Suwarni sudah diakui di daerahnya, mulai dari kecamatan Tarik hingga Mojokerto, Jawa Timur. Selain bekerja sebagai penambal ban, ibu tiga anak ini sehari-hari bekerja juga sebagai tukang ojek. Sehari-hari Warni melintas di jalan-jalan kampung, mulai dari Tarik, Mojokerto, Prambon, Tulangan, Tanggulangin, hingga Sidoarjo.

“Tergantung konsumenlah. Kita sih senang saja. Namanya juga cari makan,” tuturnya lembut.

Bekerja sebagai tukang ojek, merangkap tukang tambal ban, dilakoninya sejak tahun 1993 waktu dirinya berusia 30 tahun. Berbekal kepiawaian mengemudikan motor, Warni memberanikan diri menjalankan layanan ojek. Tentu saja, muncul banyak suara sumbang, atau sekadar heran, kok wanita jadi tukang ojek rangkap tambal ban? Bukankah itu pekerjaan laki-laki? Hingga kini Suwarni adalah satu-satunya perempuan tukang ojek di sana.

“Biarkan aja mereka bicara. Saya kan bekerja untuk kebutuhan keluarga. Kalau saya nggak kerja, apa mereka bantu keluarga saya?” katanya tenang.

Memang, di awal-awal menekuni ojek plus tambal ban, Suwarni oleh warga setempat dianggap aneh, nyeleneh, tidak umum. Lama kelamaan penduduk setempat terbiasa dengan kehadiran Suwarni yang tekun bekerja di pinggir jalan. Sekarang, kata Suwarni, yang keheranan melihat perempuan bekerja sebagai tukang tambal ban dan tukang ojek justru pendatang dari luar daerahnya.

Ada keuntungan tersendiri buat Ning Warni sebagai perempuan di kedua pekerjaan tersebut. Ia justru menjadi langganan para penumpang perempuan.

“Lebih sreg kalau dibonceng Ning Warni. Kita kan sama-sama wanita, jadi enak kalau di jalan,” ujar seorang Siti Fatimah, wanita berjilbab.

Ia pernah memakai kaos oblong, celana panjang, helm standar sehingga sang penumpang, yang belum pernah naik ojeknya, terkecoh. Di tengah jalan, ketika berdialog, sang penumpang terkejut ketika mendengar suara perempuan keluar dari pengemudi ojek. “Maaf, sampayen ini laki-laki apa perempuan?” tanya si penumpang. Ning Warni membuka helemnya, memperlihatkan wajah serta rambutnya yang panjang.

Bingung Kenapa Meraih Penghargaan Kartini

Suwarni mengaku kaget sewatu ada panitia ‘Kartini Award’ (dari Hotel Surabaya Plaza, dulu Hotel Radisson) datang menghubunginya di Dusun Mergosari, Kecamatan Tarik. Ning Warni dianggap memenuhi kriteria sehingga layak mendapat penghargaan. Acara digelar di Surabaya, di sebuah hotel berbintang. “Saya kaget sekali, kok dapat penghargaan. Prestasi saya apa? Beneran apa main-main?” kenangnya lugu.

Dengan penjelasan panjang-lebar, Suwarni dan tiga anaknya (Sri Irawati, Joko Basuki dan Ria Agustina) berangkat ke Surabaya untuk menerima penghargaan. Dia keheranan karena menurutnya, sehari-hari ia hanya bekerja biasa, tetapi ternyata dianggap mewujudkan cita-cita Raden Ajeng Kartini.

“Lumayan, hadiahnya macam-macam. Uang tunai, piagam, serta bingkisan lain,” tutur Suwarni yang menikah dengan seorang pemain ludruk terkemuka setempat.

Acara Kartini Award itu diliput banyak wartawan dari berbagai media lokal maupun nasional, termasuk televisi. Maka, wajah Warni pun masuk koran, majalah, tabloid, televisi. Warga Dusun Mergosari pun terkaget-kaget menyaksikan sosok Warni di media massa. Suwarni sendiri hanya bisa tersenyum saja.

Ia tetap sederhana, melayani pelanggan dengan  apa adanya. Tak ada yang berubah pada diri seorang Ning Warni kendati sempat diliput luas media massa. Warni menganggap Kartini Award, liputan media massa, apresiasi warga Surabaya, sebagai dukungan moral baginya untuk tetap tekun bekerja.

Di waktu senggang, Suwarni punya kesibukan lagi. Ia adalah anggota Ludruk Gema Tribrata, grup seni tradisi binaan Polda Jawa Timur. Cak Otheng, suaminya, merupakan pemimpin ludruk yang bermarkas di Dusun Mergosari, Kecamatan Tarik.

“Sampai sekarang saya masih main meskipun akhir-akhir ini tanggapan agak kurang. Ludruk kan main malam, sehingga nggak mengganggu pekerjaan tambal ban dan ojek,” ujar Ning Warni santai. [Catatan: Karena main ludruk itulah, Suwarni lebih dikenal sebagai Ning Warni. Semua pemain ludruk memang menggunakan sapaan akrab ‘Cak’ untuk pria dan ‘Ning’ untuk wanita.]

Ketika Gema Tribrata sepi tanggapan, Ning Warni dan Cak Otheng tak kehabisan akal. Mereka membentuk grup’campursari’ dengan formasi kecil. Ini penting untuk menyiasati pasar yang sulit menanggap grup besar seperti Gema Tribrata yang 50-60 orang. “Saya dipasang sebagai pelawak. Main campursari, mengisi wayang kulit, juga bisa,” tuturnya, bangga.

Perihal mtcdempet
wong dempet kecamatan dempet kabupaten demak jawatengah indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s