contoh penyimpangan sosial

PENGGUNA NARKOBA

JAMBI – Provinsi Jambi menjadi lahan subur peredaran narkoba. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), Jambi masuk peringkat enam besar di Indonesia sebagai daerah pengguna narkoba. Data tersebut diperoleh dari hasil penelitian (survei) BNN bersama Universitas Indonesia (UI) dengan sample usia produktif 10-59 tahun.

Sampai akhir Maret 2011 ini, pengguna narkoba di Jambi tercacat sebanyak 50.420 orang. Angka tersebut naik tajam dari 44.627 pengguna pada tahun 2008. Dalam kurun waktu dua tahun saja, kenaikan pengguna narkoba di Jambi mencapai 5.793 orang.

Data tahun 2008, urutan pertama pengguna narkoba ditempati adalah DKI Jakarta, yakni 286.494 pengguna dengan populasi usia produktif 10-59 mencapai 6.980.700 jiwa. Lalu disusul DI Yogyakarta dengan jumlah pengguna 68.980 (populasi 2.537.100) jiwa. Di urutan ketiga Maluku dengan jumlah pengguna 25.302 orang dari populasi penduduk produktif 968.900 jiwa.

Di urutan keempat, Maluku Utara dengan jumlah pengguna 15.699 jiwa. Lalu Gorontalo di urutan kelima dengan jumlah pengguna 14.306 dari populasi penduduk produktif 666.400 Jiwa. Sementara itu, Jambi populasi penduduk produktif mencapai 2.104.000 Jiwa, untuk peredaran narkoba, masuk dalam rangking 16 se-Indonesia.

Sedangkan jumlah kasus yang diproses Direktorat Narkoba dan jajaran, tahun 2006; 270 kasus, 2007; 219 kasus, 2008; 175 Kasus, 2009; 266 kasus dan tahun 2010 mencapai 277 kasus.

Sementara itu, data tahun 2010 yang terkena virus HIV /AIDS akibat pengguna narkoba yang berobat dan tercacat di Dinas Kesehatan sebanyak 492 orang. Angka tersebut naik menjadi 506 orang sampai bulan Maret 2011.

Kepala BNNP Provinsi Jambi Drs Mohammad Yamin Sumitra mengatakan, maraknya pengguna narkoba di Provinsi Jambi disebabkan berbagai faktor. Salah satunya faktor ekonomi “Narkoba kan dibeli dengan uang, jadi perekonomian Jambi bagus,” terangnya.

Selain faktor ekonomi, penggunaan narkoba berasal dari diri individu. “Kita sendiri yang bisa mengendalikan diri,” ujarnya. Selain itu, karena posisi daerah yang cukup strategis, yakni sebagai pintu gerbang keluar masuk ke negara tetangga membuat Jambi menjadi salah satu daerah yang diincar mafia narkoba. “Setidaknya Jambi masuk daftar sebagai daerah tujuan mafia narkoba,” katanya.

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Jambi menjadi kawasan yang paling banyak terjadi kasus tindak pidana narkoba. Dalam kurun waktu delapan bulan saja, angka tindak pidana narkoba telah mencapai 82 kasus. Salah satu tersangkanya adalah Joni Ruso, bandar besar narkoba yang beromzet miliaran rupiah.

Seperti diketahui, Joni Ruso digerebek di rumahnya, Jalan Fatah Leside, No.02, Kelurahan Handil Jaya, Kecamatan Jelutung. Bersama Joni, polisi menyita barang bukti sabu-sabu sebanyak 800 gram atau senilai Rp 1,6 miliar. Kepada polisi, Joni mengaku barang bukti sabu itu dikirim seseorang dari Jakarta lewat jalur darat.

Joni, diyakini polisi sebagai anggota sindikat narkoba internasional yang beroperasi di Jakarta. Atas perbuatannya, Joni divonis 14 tahun penjara oleh hakim pengadilan negeri Jambi. Kini dia tengah menjalani hukuman di Lapas Jambi.

Setelah Kota Jambi, daerah yang menjadi sasaran peredaran narkoba adalah Kabupaten Bungo. Menurut catatan BNP, dalam kurun delapan bulan, di daerah ini terjadi 11 kasus narkoba.

Selain Bungo, Kabupaten Kerinci dan Tanjab Barat juga terbilang tinggi angka kasus narkobanya, yakni masing–masing 10 kasus. Lalu, Kabupaten Merangin dan Sarolangun masing-masing sembilan kasus. Kasus selanjutnya, Muarojambi dan Tebo lima kasus.

Daerah paling timur Provinsi Jambi, Kabupaten Tanjab Timur juga tak luput dari kasus narkoba. Sampai dengan Agustus 2011, setidaknya ada tiga kasus narkoba di daerah itu.

Jenis narkoba yang banyak beredar di Jambi terdiri dari berbagai jenis. Di antaranya sabu-sabu, ganja, pil ekstasi dan putaw. Para pelakunya pun beragam. Mulai dari pengusaha, PNS, mahasiswa, bahkan ada juga polisi yang terlibat. Selain pengguna, banyak pula para pengedar atau kurir yang ditangkap. Namun bandar besarnya masih jarang tersentuh.

Menurut Kombes Pol Mohammad Yamin Sumitra, untuk mencegah peredaran narkoba yang makin meluas, pihaknya terus melakukan upaya sosialisasi ke masyarakat, kantor pemerintahan dan swasta serta sekolah-sekolah. Pengunaan narkoba di Jambi, kata dia, salah satu disebabkan faktor ekonomi. Untuk membeli narkoba diperlukan uang. “Jadi hanya orang yang punya uang yang bisa membeli,” katanya.

Selain faktor ekonomi, pergaulan juga menjadi hal yang sangat penting. Dengan pergaulan yang salah orang akan terjerumus. “Cara menghindari narkoba adalah berasal dari individu masing-masing,” jelasnya.

 

 

Tawuran Saling Bacok di Cengkareng, Satu Pelajar Tewas  

-Seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  tewas dalam sebuah tawuran antar pelajar di Cengkareng, Jakarta Barat. Thomas Jonathan yang merupakan siswa kelas 1 SMK Bina Siswa Kebun Jeruk itu tewas mengenaskan dengan luka tusuk di lutut kiri, dada kiri, dan punggung. Bahkan leher bagian belakangnya tersabet golok.

Korban bersama sekitar puluhan orang teman sekolahnya sebelumnya terlibat tawuran dengan siswa dari SMK Kedoya kemarin sore (6/10). “Tawuran sekitar pukul 16.15 WIB di Jalan Daan Mogot KM 12,5 arah Grogol, Kelurahan Cengkareng Timur, Cengkareng,” ujar Kepala Kepolisian Sektor Cengkareng, Komisaris Ruslan, Kamis (7/10).

Dalam tawuran itu tampaknya kedua kubu telah melengkapi diri dengan berbagai senjata mulai dari pentungan hingga golok. Perkelahian hanya berlangsung singkat, sekitar 15 menit. Namun akibatnya fatal, Thomas terkapar bersimbah darah di jalanan. “Dalam tawuran itu korban terluka parah akibat tusukan dan bacokan di leher belakang,” kata Ruslan.

Teman-teman Thomas yang panik, membawanya ke Puskesmas Cengkareng. “Diantar oleh tiga orang rekannya yaitu Angga, Desa, dan Ahmad Sacyu,” lanjut Ruslan. Namun nyawa Thomas tidak tertolong. “Ia mengalami luka parah akibat sabetan senjata tajam di leher belakang yang mengakibatkan kematian korban,” ujar Ruslan.

Kini jasad Thomas telah dibawa ke RSCM untuk diotopsi. Menurut Ruslan, kadua sekolah itu memang telah lama memiliki budaya tawuran. Pihak kepolisian juga telah melakukan antisipasi dan pencegahan terjadinya tawuran.

“Sebelumnya kami telah dua kali mencegah dan menggagalkan tawuran antar kedua sekolah itu, namun tiba-tiba muncul tawuran lagi dan jatuh korban,” kata Ruslan.

Meninjau Ulang Kriminalitas Remaja

Salah satu problem pokok yang dihadapi oleh kota besar, dan kota-kota lainnya tanpa menutup kemungkinan terjadi di pedesaan, adalah kriminalitas di kalangan remaja. Dalam berbagai acara liputan kriminal di televisi misalnya, hampir setiap hari selalu ada berita mengenai tindak kriminalitas di kalangan remaja. Hal ini cukup meresahkan, dan fenomena ini terus berkembang di masyarakat.

Dalam satu liputan di harian Republika (2007) misalnya, dikatakan bahwa di wilayah Jakarta tidak ada hari tanpa tindak kekerasan dan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Tentu saja tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja sangat bervariasi, mulai dari tawuran antarsekolah, perkelahian dalam sekolah, pencurian, hingga pemerkosaan. Tindak kriminalitas yang terjadi di kalangan remaja dianggap kian meresahkan publik. Harian Kompas (2007) bahkan secara tegas menyatakan bahwa tindak kriminalitas di kalangan remaja sudah tidak lagi terkendali, dan dalam beberapa aspek sudah terorganisir. Hal ini bahkan diperparah dengan tidak mampunya institusi sekolah dan kepolisian untuk mengurangi angka kriminalitas di kalangan remaja tersebut.

Dalam liputan khusus yang pernah dikeluarkan oleh Kompas (2002), dikatakan bahwa angka kriminalitas di Jakarta pada 2002 meningkat sebesar 9,86% jika dibandingkan dengan tahun 2001. Dalam persentase kenaikan tersebut memang tidak secara khusus dinyatakan berapa besaran angka kriminalitas di kalangan remaja. Harian Republika (2005) lebih berani mengatakan bahwa hampir 40% tindak kriminalitas di Jakarta dilakukan oleh remaja. Dalam liputannya, Kompas (2002) menyebutkan bahwa sampai dengan 301

Desember 2002 tercatat 34.270 kasus kriminal. Polresto Jakarta Pusat merupakan tempat pertama dengan angka kriminalitas tertinggi dengan 7.011 kasus, disusul oleh Jakarta Selatan denan 6.036 kasus, Jakarta Timur denan 4.274 kasus, Jakarta Barat dengan 2.997 kasus, Jakarta Utara dengan 2.827 kasus, Depok dengan 2.694 kasus, Bekasi dengan 2.487 kasus, dan Tanggerang dengan 2.474 kasus. Tentu saja daftar ini dapat lebih panjang lagi jika mempertimbangkan daerah lainnya.

Crime Index atau daftar sebelas kejahatan yang meresahkan masyarakat juga bertambah, dari 18.677 kasus pada tahun 2001 menjadi 19.011 kasus pada tahun 2002. Adapun yang termasuk dalam Crime Index adalah pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan penganiayaan berat (curat), penganiayaan berat (anirat), pembunuhan, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), kebakaran, perjudian, pemerkosaan, narkotika, dan kenakalan remaja.

Kenakalan remaja yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, dan dunia pada umumnya, dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk perilaku menyimpang di masyarakat. Tentu saja fenomena ini dapat dijelaskan dalam tataran ilmu sosial, hanya saja untuk mencari suatu teori yang relevan yang dapat menjelaskan dengan baik mengenai kenakalan remaja dibutuhkan kejelian tersendiri. Kenakalan remaja dapat diidentifikasikan sebaai bentuk penyimpangan yang terjadi di masyarakat, dan dengan identifikasi ini maka kenakalan remaja dapat dijelaskan dalam tataran ilmu- ilmu sosial.

 

 

Perihal mtcdempet
wong dempet kecamatan dempet kabupaten demak jawatengah indonesia

3 Responses to contoh penyimpangan sosial

  1. siti mengatakan:

    ooo gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s