perubahan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat

Perilaku konsumtif remaja

Belanja saat ini sudah menjadi kebiasaan. Dahulu orang berbelanja karena barang-barang tersebut memang dibutuhkan sehingga dibeli. Namun saat ini belanja telah berkembang sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Begitupun pada remaja, belanja juga punya makna tersendiri.

Bagi produsen, kelompok usia remaja merupakan salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk oleh rayuan iklan. Faktor lainnya yang membuat remaja berprilaku konsumtif, ia suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

Sementara itu, kata ?konsumtif? diartikan sama dengan kata ?konsumerisme?. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Kata konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pola perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan untuk membeli sepasang sepatu yang sebenarnya tidak ia tidak terlalu membutuhkan. Ia akan semakin konsumtif, bila ia membeli sepatu dengan harga 200 ribu dengan kartu kredit.

Dewasa ini, remaja yang besar dan tumbuh di kota-kota besar sudah menjadikan mall sebagai rumah keduanya. Mengapa demikian? Salah satu alasanya, mereka ingin menunjukkan diri bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah, sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Nah, hal tersebutlah yang memunculkan perilaku konsumtif pada remaja.

Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti. Hal tersebut terjadi mengingat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja memiliki sejumlah kecenderungan, seperti ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, ia berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebayanya menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang menjadi trend.

Kebanyakan remaja memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting, bahkan lebih penting bila dibandingkan dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idolanya menjadi lebih penting untuk ditiru dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan oleh artis idolanya itu untuk meraih kepopulerannya.

Peniruan tersebut menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar ini dilakukan secara berlebihan. Kata-kata pepatah ?lebih besar pasak daripada tiang? berlaku di sini. Karena pada akhirnya, remaja menuntut orang tuanya untuk memenuhi kebutuhannya dalam peniruan ini.. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Salah satu penyebab timbulnya keluhan orangtua, karena sebagian perilaku remaja menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.

Dengan banyaknya dampak negatif akibat perilaku konsumtif ini, maka Anda dapat mengurangi perilaku ini sedikit demi sedikit. Bila tidak, ia akan terus mengakar di dalam gaya hidup dan akan berlanjut sampai dewasa. Dampak negatif akan lebih besar terjadi apabila pencapaian finansial didapatkan melalui segala macam cara yang tidak sehat.

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan perubahan yang normal. Pengaruhnya tersebar secara cepat ke dalam kehidupan masyarakat. Bahkan perubahan yang terjadi di suatu tempat di belahan bumi satu bisa memengaruhi tempat di belahan bumi yang lain. Perubahan yang terjadi akan semakin berkembang seiring berkembangnya kehidupan masyarakat di era modernisasi dan globalisasi ini. Perubahan itulah yang memengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupan. Gambar di atas merupakan contoh modernisasi di bidang transportasi, khususnya transportasi darat.

Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan-perubahan. Berdasarkan sifatnya, perubahan yang terjadi bukan hanya menuju ke arah kemajuan, namun dapat juga menuju ke arah kemunduran. Perubahan sosial yang terjadi memang telah ada sejak zaman dahulu. Ada kalanya perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung demikian cepatnya, sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya. Berikut ini beberapa ilmuwan yang mengungkapkan tentang batasan-batasan perubahan sosial. Gillin dan Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat.

Pada gambar berikut terlihat adanya kemajuan atau modernisasi dalam hal pemanenan hasil pertanian. Pada gambar (a) terlihat bahwa pengolahan hasil panen masih dilakukan secara manual; pada gambar (b) terlihat bahwa petani setempat mulai menggunakan teknologi sederhana dalam pengolahan hasil panennya; dan pada gambar (c) terlihat bahwa proses pemanenan dan pengolahan hasil panen dilakukan dengan menggunakan alat pertanian yang canggih sehingga proses pemanenan dan pengolahannya dapat dilakukan sekaligus.

 

Gaya hidup bebas remaja – seks rokok, konsumerisme

Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat ini terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi.

Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya

Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan

Perubahan Sosial Di Dusun Banteng Kaliurang Jogjakarta

Dusun Banteng di masa lampau sangat berbeda dengan dusun Banteng di masa sekarang. Kata dusun sudah tidak layak lagi disandang oleh daerah yang terletak di sebelah utara kota Jogjakarta ini. Dusun Banteng yang berada di kilometer ketujuh dari jalan Jogja – Kaliurang ini telah mengalami suatu perubahan yang cepat baik secara sosial, ekonomi, kebudayaan dan fisikal. Dahulu dusun Banteng merupakan sebuah daerah perumahan bagi para pendatang yang bekerja di Jogjakarta. Letaknya yang jauh dari kota membuatnya sebagai daerah yang cukup terpencil dan sepi layaknya dusun – dusun lain yang berada di pinggiran kota. Apalagi setelah pembangunan jalan Ring Road Utara yang semakin memperjelas pemisahan antara kota dengan pinggiran kota. Dusun Banteng sendiri sebenarnya bukan termasuk dalam wilayah pemerintahan Kota Jogjakarta namun masuk dalam wilayah pemeritahan Kabupaten Sleman.

Dusun Banteng merupakan salah satu daerah perumahan yang paling tua di wilayah Jogjakarta. Beberapa tipe rumah terdapat di dusun ini, mulai dari tipe sederhana yang bercirikan rumah pedesaan pada umumnya dan juga tipe menengah kebawah, dan yang terakhir tipe menengah ke atas. Oleh karena lebih banyak dihuni oleh para pendatang maka tak heran jika sekarang hampir sebagian besar perumahan di beberapa wilayah di dusun ini terlihat besar dan tampak mewah sehingga dapat dibedakan rumah – rumah mana yang merupakan tempat tinggal penduduk asli dan pendatang. Rumah penduduk asli biasanya memiliki halaman yang cukup luas dengan rumah kecil yang masih tampak tradisional karena terbuat dari kayu dengan atap genteng yang sederhana. Sedangkan perumahan mewah biasanya dipagari tinggi dengan rumah yang tampak seperti istana dan umumnya bertingkat. Namun di beberapa bagian tampak juga juga rumah – rumah biasa yaitu rumah yang tak tidak bisa digolongkan sebagai rumah mewah maupun rumah yang sederhana. Rumah – rumah ini tidak memiliki halaman yang luas, dan letaknya berhimpitan dengan rumah-rumah lainnya. Di bagian lain daerah ini juga masih tampak lahan-lahan luas yang kosong baik yang terpelihara berupa sawah kebun ataupun tak terpelihara karena pemiliknya menjadikan lahan itu sebagai investasi masa depan.
Seiring dengan perkembangan kota Jogjakarta sendiri yang dikenal sebagai kota pelajar dengan bertumbuhnya puluhan lembaga – lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, daerah di sekitar Dusun Banteng pun mengalami suatu perubahan yang pesat.
Berdirinya Social Generator yaitu Universitas Islam Indonesia di jalan kaliurang kilometer empat belas dan dikembangkannya daerah wisata Kaliurang, membuat perkembangan pembangunan kota lebih cenderung mengarah ke Jogjakarta Utara khususnya di jalan Kaliurang. Kedua tempat tersebut menimbulkan daya tarik bagi penduduk untuk datang dan tinggal di daerah yang berdekatan dengan lokasi keduanya seperti prinsip “ada gula ada semut”.
Oleh karena itu tidaklah heran, jika jalan kaliurang setelah ringroad yang dahulu dikenal sebagai jalan yang sepi itu telah dipenuhi oleh berbagai fasilitas publik, berupa pasar, toko-toko, swalayan, apotek dan pusat kesehatan, kantor, lembaga pendidikan dan perumahan-perumahan baru baik sebagai tempat tinggal ataupun tempat kost. Pemandangan lalu lintas kendaraan bermotor pun semakin padat, bahkan pada jam berangkat sekolah dan berangkat kerja yaitu jam delapan dan jam pulang sekolah / kerja jam dua dan jam empat selalu terjadi antrian panjang kendaraan. Begitu juga pada akhir minggu dimana sebagian besar para penduduk kota Jogjakarta mencari hiburan dan rekreasi di daerah wisata Kaliurang.
Dusun Banteng pun menjadi incaran bagi developer perumahan untuk membangun lahan-lahan kosong yang masih tersisa. Sawah – sawah dan kebun mulai berkurang dan digantikan dengan berdirinya perumahan baik yang tergolong mewah maupun menengah. Mulai berdiri pula fasilitas pendukung seperti pasar, wartel, swalayan, salon, warnet, pedagang makanan, pedagang kaki lima di malam hari, dan warung angkringan.
Para investor pun mulai menanamkan modal dengan membeli tanah yang nilainya semakin meningkat setiap tahunnya. Tanah di dusun Banteng yang semula berharga 100 ribu/meter persegi di awal tahun 2000, saat ini telah menjadi 700 ribu/meter persegi. Selain itu para investor juga membangun kost-kost-an dengan banyak kamar, dan juga membangun rumah untuk dikontrakan kepada mahasiswa – mahasiswa yang ingin memiliki kebebasan yang lebih dari pada menyewa kost. Kepadatan pendudukpun bertambah sehingga orang mulai membangun rumah tidak lagi menyisakan ruang dan berhimpitan dengan rumah lainnya. Kepadatan penduduk itu sendiri merujuk pada jumlah orang yang ada dalam suatu ruang spasial yang semakin lama semakin banyak.
Pembangunan perumahan – perumahan yang tidak lagi menyisakan lahan kosong dan juga penuhnya jalanan dengan kendaraan bermotor menimbulkan suatu efek yang dikenal dengan crowding. Orang akan merasa crowded yaitu suatu pengalaman subjektif dari rasa sesak/sumpek/berjejal dan tidak memiliki ruang yang cukup untuk bergerak. Kepadatan mungkin tidak menyenangkan namun crowding lebih tidak menyenangkan dan bersifat negatif (menimbulkan komplain). (Sears, Peplau, Taylor, 1970)
Menurut Stanley Milgram (1970), kepadatan penduduk juga akan menimbulkan sensory overload atau suatu keadaan dimana dipenuhi oleh banyak stimulus sehingga membuat situasi tidak menyenangkan dan timbulah perasaan crowded. Contohnya suara tetangga sebelah yang sedang bercanda dengan tamunya, di lain pihak terdengar suara tv dan radio dari tetangga lainnya, juga bau masakan dari tetangga depan, suara pengajian dari mesjid, raungan motor – motor yang lewat. Jika saat itu seseorang dalam keadaan tidak mood, stimulus – stimulus itu akan merangsang ketidaknyamanan sehingga dapat memicu emosi – emosi lainnya. Namun ketidaknyaman dari adanya stimulus yang berlebihan ini sangat tergantung dari coping yang dilakukan tiap orang yang bersifat individual differences.
Intensitas dari kepadatan itu sendiri juga sangat mempengaruhi perilaku orang. Semakin dekat seseorang maka efeknya semakin kuat, begitu pula semakin kuat stimulus ataupun semakin banyak stimulus yang ada akan memberikan efek yang kuat pada seseorang untuk memunculkan situasi kenyamanan ataupun ketidaknyamanan. (Jonathan Freedman, 1975)
Kepadatan yang tinggi yang terjadi di dusun Banteng telah menimbulkan beberapa perubahan perilaku pada sebagian besar masyarakatnya. Beberapa diantaranya yang teramati adalah :
Kurangnya kontrol dalam berperilaku (Baron & Rodin, 1978). Kepadatan membuat seseorang kurang dapat mengontrol perilakunya Contohnya ngebut-ngebutan di jalan kaliurang yang padat, orang melakukan tindakan ini karena merasa frustasi dan ingin mencari space yang kosong secepatnya.
Mulai banyaknya anak-anak muda yang nonkrong di gang-gang di dusun Banteng pada larut malam karena pada saat – saat tersebut situasi ruang sangat longgar dan sepi sehingga mereka mendapatkan space yang luas dibandingkan jika siang hari. Pada akhirnya perilaku ini dapat menimbulkan permasalahan sosial yang lain seperti mabuk-mabukan, perjudian, dan kejahatan.
Terjadi salah tingkah dalam pergaulan sosial. Contohnya dahulu mungkin sebagian besar masyarakat akan mengucapkan salam jika bertemu namun sekarang karena terlalu banyak orang, terjadi kebingungan untuk memberikan salam. Dengan kata lain orang merasa capek untuk memberi atau membalas salam karena banyaknya orang. Gejala ini akhirnya akan menumbuhkan sifat individualistis dalam masyarakat.
Toleransi terhadap nilai-nilai sosial. Banyaknya pendatang dengan membawa kebudayaan masing-masing membuat tiap orang melakukan asimilasi dan konformitas sehingga terjadilah percampuran kebudayaan yang pada akhirnya menumbuhkan rasa toleransi yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Contohnya pulang larut malam dianggap biasa, perempuan yang dikunjungi oleh laki-laki juga dianggap biasa.
Individualistis dan penarikan diri dari masyarakat. Kepadatan membuat orang mencari space yang kosong dan akhirnya tumbuhlah sifat individualis dan juga orang cenderung menarik diri dari kegiatan – kegiatan dalam masyarakat seperti rapat RT yang hanya dihadiri sebagian saja penduduk kampung. Berkurangnya komitmen terhadap kelompok masyarakat yang lebih luas, meskipun dalam kelompok yang lebih kecil terjadi sebaliknya. Seperti yang terjadi pada sebagian besar orang – orang yang tinggal di kota. (Gibbs, 1971)
Munculnya prasangka terhadap orang lain. Oleh karena sifat individualistis dan penarikan diri tersebut sehingga komunikasi tidak terjadi dengan baik yang mengakibatkan orang cenderung memberikan persepsi yang buruk dalam rupa prasangka-prasangka.
Dengan demikian jelas bahwa perubahan sosial yang terjadi pada Dusun Banteng membawa berbagai dampak baik positif yaitu pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri dan juga perubahan yang membawa dampak negatif yaitu berubahnya sistem nilai dan juga perilaku masyarakat yang cenderung kurang kontrol yang merupakan penyaluran dari rasa ketidaknyamanan. Hal tersebut juga menjadi sumber potensi munculnya berbagai permasalahan sosial lainnya seperti tindak kriminal, asusila, dan perilaku – perilaku lainnya yang dianggap menyimpang oleh masyarakat pada umumnya.

Perihal mtcdempet
wong dempet kecamatan dempet kabupaten demak jawatengah indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s